Rumahdaribambu: revisited

Dulu, di awal saya memulai membangun rumahdaribambu.com saya memiliki impian yang cukup muluk, yaitu: saya ingin dapat memberikan sumbangan berupa gagasan desain rumah sederhana dari bambu yang akan saya bagikan untuk para pembaca yang membutuhkan. Free, gratis!

Namun, nampaknya cita-cita saya itu belum dapat benar-benar saya wujudkan bahkan hingga kini, saat usia rumahdaribambu.com menginjak 2 tahunan. Maka, kali ini saya ingin menulis sekelumit tentang hal itu. Jadilah tulisan ini saya beri judul: “Rumahdaribambu:revisited”.

Sebagaimana saya beberapa kali mengulang-ulang quote dari Chris Sacca, yang kira-kira berbunyi: “Ideas are cheap, execution is everything“, saya kian menyadari bahwa ide dan gagasan itu sebenarnya nyaris “tak berharga”. Anda boleh tak sependapat dengan hal ini.

Meskipun anda tak sependapat, namun rasanya di banyak kesempatan hal ini cukup relevan. Paling tidak untuk kasus gagasan saya dan rumahdaribambu.com ini. Selama gagasan saya belum bisa saya wujudkan, yaaa… bisa dibilang RDB ini cheap lah. Ibaratnya, omdo, alias omong doang.

Desain memang bukan kerja mudah. Setidaknya itu yang saya rasakan. Ada beberapa gambar yang saya hasilkan selama saya mengelola rumahdaribambu.com, dan hasilnya pun masih cukup ‘biasa’ (meskipun ada satu desain yang saya hasilkan yang membuat saya agak lumayan puas yaitu desain “The Egg” yang saya ikutkan sayembara Resilient Homes Challenge beberapa waktu lalu).

Desain saya dalam sayembara Resilient Homes Challenge (2018). Tidak terpilih dalam proses kurasi namun cukup membuat saya puas.
Desain saya dalam sayembara Resilient Homes Challenge (2018). Tidak terpilih dalam proses kurasi namun cukup membuat saya puas.
Gambar potongan desain saya untuk Resilient Homes Challenge (2018)

Tapi rasanya, ini belum cukup. Karena pada awal saya membangun rumahdaribambu.com ini, bukan ini yang saya bayangkan.

Waktu itu saya membayangkan saya bisa menghasilkan desain rumah yang sebagian besar terbuat dari material bambu, yang selain secara budget pembangunannya cukup murah/terjangkau, namun secara arsitektural dan estetis mampu memenuhi kaidah arsitektur.

Meskipun pada waktu itu saya juga pernah membuat desain yang sederhana dan mengedepankan bambu untuk saya ikutkan kompetisi arsitektur untuk para arsitek muda, namun hasilnya jauh dari yang saya harapkan.

Desain rumah sederhana minimalis
Desain saya untuk sayembara rumah Lombok pasca bencana gempa.
Desain rumah sederhana minimalis
Desain rumah sederhana minimalis
Upaya pemanfaatan material reruntuhan akibat gempa.

Dari titik ini nampaknya saya harus melihat ulang tulisan, gagasan, dan capaian yang tumbuh bersama rumahdaribambu.

Selain itu, sepertinya saya juga belum benar-benar menemukan pembaca saya dengan tulisan dan gagasan yang saya bagikan, yang sebagian besar sebenarnya (rasa-rasanya) belum saya tulis dengan sepenuh hati.

Sebabnya ada banyak hal, mulai dari ketersediaan waktu, ketersediaan gagasan, dan kenyataan bahwa rumahdaribambu harus “berbagi waktu” dengan banyak serakan ide dan weekend project serta proses moonlighting saya yang lainnya. Ini pun tentunya harus dilakukan setelah waktu-waktu saya untuk keluarga sudah saya amankan terlebih dulu.

Bukan mencari sebab dan alasan (jadi teringat lagu dari Exist), namun ternyata memiliki cita-cita dan berupaya mewujudkan cita-cita tersebut adalah dua hal yang berbeda, dan memiliki tantangan dan tekanan yang berbeda pula. Apalagi kalau kita terlalu banyak cita-cita hehehe..

Nah, apabila dilihat dari artikel yang paling banyak mendapatkan pembaca dan paling banyak dishare melalui berbagai kanal, saya juga cukup heran.

Artikel yang paling “laku” tersebut ternyata adalah artikel saya yang terkait bambu ini. Kalau anda mengetikkan kata kunci “sambungan bambu”, nah itulah, artikel yang bertengger di nomor pertama di SERP (Search Engine Result Page) itu mengarah ke tulisan di rumahdaribambu.com tersebut.

Ada lagi yang membuat saya heran, eh, malah artikel yang saya pasang sebagai anchor post ini malah sepertinya sama sekali tidak mendapatkan view. Sepertinya justru salah satu tulisan andalan saya ini malah terseok-seok di SERP.

Tentu hal tersebut juga turut menyumbang redupnya semangat menulis dan menuangkan gagasan beberapa waktu terakhir.

Namun, saya akan mencoba terus untuk tetap menghidupkan rumahdaribambu.com ini dan membagikan tulisan dan gagasan yang harapannya bermanfaat untuk pembaca, baik yang murni gagasan atau tulisan saya maupun yang saya kutip dan sadur serta kompilasi dari sana sini.

Terakhir, saya berharap semoga saya masih dapat mewujudkan mimpi saya saat awal saya membangun rumahdaribambu.com ini yaitu: membagikan gagasan desain rumah sederhana dari bambu untuk para pembaca yang membutuhkan. Free, gratis! . Berapa pun jumlah pembaca tulisan-tulisan saya.

Semoga terlaksana! 🙂

Ide Desain dan Gambar Taman Minimalis Bambu

Taman merupakan salah satu bagian dari rumah yang mungkin memiliki fungsi yang sedikit lebih khusus dibandingkan ruang-ruang lainnya dalam suatu rumah. Pada umumnya, taman melayani fungsi estetis dan rekreatif bagi penghuni rumah. Kali ini, rumahdaribambu.com ingin merangkum beberapa contoh ide desain dan gambar taman minimalis bambu untuk pembaca semua.

Mengapa bambu? Bambu mungkin bukan merupakan salah satu jenis tanaman favorit yang dimanfaatkan untuk mempercantik taman rumah anda. Namun siapa sangka bambu memiliki potensi untuk menjadi salah satu elemen taman yang menarik.

Salah satu negara yang banyak memanfaatkan bambu sebagai elemen pembentuk taman di dalam rumah adalah negara Jepang. Taman bergaya “Zen” yang minimalis dan hening rupanya sangat pas dan cocok jika digabungkan dengan bambu.

Taman bergaya Zen biasanya menggunakan beberapa elemen utama seperti pasir atau kerikil, air yang mengalir, pohon bambu, dan pancuran air yang terbuat dari bambu atau batu.

Gabungan antara karakter visual taman zen yang minimalis dengan suara gemerisik daun bambu maupun gemericik air dan butir pasir bisa menghadirkan atmosfer dan suasana rumah yang menyejukkan.

Nah, berikut ini beberapa contoh ide desain dan gambar taman minimalis yang memanfaatkan dan mengombinasikan elemen bambu di dalamnya yang dikompilasi dari berbagai sumber.

Contoh Gambar Taman Minimalis Bambu

1. Taman Arashiyama Jepang – Siapa yang tidak mengenal Taman Bambu “Arashiyama” di Kyoto, Jepang. Taman minimalis yang menampilkan bambu dan jalan setapak kecil sebagai elemen utamanya ini tampil ‘bold’ dan memiliki karakter yang kuat.

Tentunya kebersihan juga merupakan salah satu hal penting yang mampu menghadirkan kesan dan spatial ambience yang kuat.

Sebagaimana kita pahami bahwa bambu merupakan tanaman yang akan banyak menghasilkan ‘sampah’ berupa daun bambu yang berguguran, maka kita harus rajin-rajin dalam membersihkan taman yang menggunakan tanaman bambu sebagai elemen utamanya.

ide desain dan gambar taman minimalis bambu
Taman Bambu Arashiyama Jepang (Sumber: mkitina4 – pixabay.com)

2. Sebuah taman bambu di Jepang – Foto karya saponifier di pixabay.com ini menggambarkan sebuah taman bambu di Jepang. Terlihat dengan jelas penggunaan elemen bambu sebagai center of interest di bagian taman ini.

Bambu yang dipakai disini adalah bambu dengan jenis batang bambu dan daun bambu yang kecil, sehingga lebih mudah dalam pemeliharaannya.

Elemen lain seperti kerikil, jalan setapak kecil, serta pagar dan handrail dengan warna mencolok memberikan aksentuasi yang cukup menarik di taman ini.

Sebuah taman bambu di jepang (Sumber: saponifier – pixabay.com)

3. Ide pagar taman dari kumpulan batang bambu – Gambar berikut ini adalah contoh bagaimana orang jepang yang kreatif dan memiliki perhatian yang besar pada detail dan kerapihan menggunakan batang bambu untuk membuat pagar pada taman.

Tidak seperti di kebanyakan kampung atau desa di Indonesia yang menggunakan batang bambu berukuran agak besar atau bambu belah untuk dijadikan pagar, dalam foto karya jackmac34 di pixabay.com ini terlihat pagar terbuat dari batang bambu yang kecil yang disatukan seperti sapu dengan tali ijuk.

Contoh ide pagar taman dari bambu yang diikat ijuk (Sumber: jackmac34 – pixabay.com)

4. Deck kayu di tengah taman bambu – Biasanya, batang bambu tumbuh dan hanya menyisakan sedikit ruang untuk berjalan atau sirkulasi. Hal ini karena batang bambu umum tumbuh bergerombol sebagaimana rumput-rumputan.

Namun, ada cara untuk mengatasi hal ini. Membuat ruang yang dapat dimanfaatkan sebagai jalan setapak kecil bisa membuat taman bambu lebih mudah untuk ditata dan dinikmati.

Penambahan elemen batu atau dek kayu sebagai perkerasan pada jalan setapak yang telah dibuat tersebut akan menambah daya tarik taman bambu.

Selain itu, hal ini akan meningkatkan keamanan ketika kita melintas di tengah rimbunan bambu mengingat terkadang terdapat hewan-hewan yang cukup berbahaya seperti ular atau serangga berbahaya lainnya.

Deck kayu di tengah taman bambu (Sumber: aeforia – pixabay.com)

5. Memasang elemen bunyi-bunyian dari bambu – Memasang windhanger dari bambu bisa menjadi salah satu ide membuat taman minimalis bambu di rumah anda.

Windhanger akan membuat ambience di taman anda lebih terasa natural dan memiliki efek menenangkan.

Bunyi-bunyian ritmis yang keluar dari windhanger yang mengikuti hembusan angin akan membuat anda dan keluarga menyenangi tinggal di rumah dan menikmati siang yang sejuk di taman rumah anda

Windhanger (Sumber: Dimhou – pixabay.com)

Demikian beberapa ide desain dan gambar taman minimalis bambu yang dapat anda coba praktekkan di taman rumah anda.

Beberapa tips memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, namun beberapa tips hanya memerlukan biaya sedikit, tergantung kreatifitas kita dalam menggabungkan elemen yang ada.

Semoga bermanfaat! 🙂

Cara agar Rumah Sejuk dan Nyaman di Daerah Tropis

Pernahkah Anda berkunjung ke rumah saudara, teman, atau kolega anda dan menemukan kenyataan bahwa rumah mereka terasa sangat panas dan gerah? Atau barangkali rumah anda sendiri yang selalu terasa panas dan gerah? Nah, berikut ini rumahdaribambu.com akan membahas tentang “Cara agar Rumah Sejuk dan Nyaman di Daerah Tropis” yang mungkin bermanfaat bagi Anda.

Suhu panas di dalam rumah dapat muncul dan dipengaruhi oleh banyak hal. Namun demikian, kondisi panas di dalam rumah kita ini sebetulnya bisa diatasi dengan cara-cara yang cukup sederhana dan murah.

Kondisi Indonesia yang berada pada daerah beriklim tropis yang mendapatkan sinar matahari yang cukup panjang dalam tiap tahunnya, turut memberi andil pada kondisi iklim mikro (micro climate) di dalam rumah kita.

Selain hamburan sinar matahari yang sangat kaya tiap tahunnya, daerah beriklim tropis juga cenderung memiliki karakteristik kelembaban udara yang relatif tinggi. Kelembaban udara secara sederhana merupakan tingkat kandungan uap air dalam udara. Semakin lembab udara maka semakin kurang nyaman bagi manusia penghuni rumah.

Sebenarnya, hal yang akan dibahas dalam tulisan ini sebagian kecil telah dibahas di artikel lain yaitu “Dua Hal Penting bagi Rumah Urban Anda” ini.

Namun, isi artikel ini dimaksudkan untuk memperkaya/melengkapi artikel tersebut mengingat ada beberapa hal tambahan yang penting lainnya.

Lalu, bagaimana trik atau cara agar rumah sejuk dan nyaman meskipun terletak di daerah tropis?

Faktor Kunci agar Rumah Sejuk dan Nyaman

Sebelum menuju kesana, saya ingin mengajukan pertanyaan untuk kita renungkan.

Pernahkah anda berkunjung dan masuk ke rumah berarsitektur tradisional seperti rumah Joglo, atau bangunan yang berarsitektur kolonial (bangunan peninggalan kolonial Belanda) di lingkungan Anda?

Jika anda pernah berkunjung dan memasuki rumah tradisional maupun bangunan kolonial, pastinya anda akan merasakan kondisi iklim mikro dalam bangunan yang lebih sejuk daripada jika anda berada dalam bangunan modern seperti supermarket atau mall (yang tanpa pengatur udara) misalnya.

Apabila anda memperhatikan, saya yakin anda sendiri sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaan diawal tulisan ini.

cara agar rumah sejuk dan nyaman
Gedung Marba di Kota Lama Semarang peninggalan arsitektur kolonial. (Sumber: dokumentasi penulis)

Jika anda memperhatikan bangunan tradisional seperti rumah joglo misalnya, maka beberapa hal berikut biasanya akan anda temukan.

Rumah joglo yang lengkap dan asli biasanya dilengkapi dengan pendhapa (ruang terbuka, hanya terdiri dari lantai, tiang dan atap), pringgitan (ruang transisi antara pendhapa dengan ruang/rumah utama/dalem), lalu rumah utama/dalem yang didalamnya terdapat senthong kiwa (kamar kiri) dan senthong tengen (kamar kanan) serta senthong tengah (kamar utama).

Saya tidak akan membahas mengenai filosofinya, melainkan karena konteks yang sedang kita bahas adalah terkait kondisi iklim mikro ruangan, maka kita akan bahas elemen-elemen fisiknya saja yang mempengaruhi kesejukan dan kenyamanan ruangan rumah.

Dalam konteks rumah tradisional Jawa (dalam hal ini Rumah Joglo), maka elemen pembentuknya seperti pendhapa (ruang yang terbuka tanpa dinding dan cukup luas), bentuk atap yang seperti ‘topi’ atau ‘caping’, dan material penyusunnya yang berasal dari kayu masing-masing memberikan pengaruh sendiri-sendiri.

Pendhapa misalnya, karakternya yang tanpa dinding/sekat dan hanya terdiri dari lantai-tiang-atap dengan luas yang cukup besar memungkinkan pergerakan udara/pergantian udara di area rumah menjadi cukup baik.

Pertukaran udara yang sangat mudah ini di area pendhapa tentunya menjamin udara panas segera tergantikan dengan udara yang lebih dingin/sejuk.

Dikombinasikan dengan arah hadap rumah joglo yang menghadap ke arah Selatan (laut selatan), maka udara sejuk ini akan dengan mudah tertiup angin dan masuk ke rumah utama khususnya pada siang hari dan membawa kesejukan di rumah bagian dalam.

Sementara itu, bentuk atap seperti topi atau caping memungkinkan dinding-dinding rumah terlindungi dengan tritisan yang cukup panjang. Tritisan ini selain membantu menciptakan naungan (shade), juga berfungsi menanggulangi tampias saat musim penghujan.

Sedangkan material bangunan yang sebagian besar dari kayu memberikan efek sejuk di siang hari sekaligus hangat di malam hari.

Nah, lalu bagaimana dengan bangunan berarsitektur kolonial seperti gedung Marba di atas?

Ternyata, arsitek-arsitek pada masa kolonial dulu sudah cukup bijak dan memperhitungkan betul-betul kondisi iklim tropis Indonesia saat mereka merancang dan membangun bangunan-bangunan berarsitektur kolonial.

Faktor kunci pada bangunan kolonial yang memberikan andil terhadap kondisi iklim mikro yang sejuk merupakan kombinasi dari beberapa strategi arsitektural, yaitu: plafon/ceiling yang cukup tinggi, bukaan (pintu/jendela) yang lebar dan cukup tinggi, serta penggunaan tritisan dan koridor-koridor pada layer terluar bangunan.

Namun, selain itu, banyak juga bangunan kolonial yang memperkenalkan “inner courtyard” sebagai ruang bernafas bagi bangunan untuk membantu ruang-ruang bagian terdalam dari suatu bangunan/rumah agar tetap mendapatkan pasokan udara segar dan sejuk yang cukup.

Selain itu, baik bangunan tradisional seperti rumah joglo maupun bangunan kolonial juga memanfaatkan elemen seperti tumbuhan (pohon/perdu/tanaman rambat) dan elemen air (kolam/air mancur) untuk turut memberikan efek sejuk di dalam ruangan.

cara agar rumah sejuk dan nyaman
Contoh bangunan bergaya joglo (Pondok Tingal – Borobudur, Magelang) (Sumber: dokumentasi pribadi)
cara agar rumah sejuk dan nyaman
Pemanfaatan tanaman dolar untuk membuat dinding terasa sejuk (Rumah dr. Antok) (Sumber: dokumentasi proyek pribadi)
cara agar rumah sejuk dan nyaman
Menanam tanaman rambat di pagar bangunan (Rumah dr. Antok) (Sumber: dokumentasi proyek pribadi)

Nah, itulah beberapa tips yang dapat anda praktikkan jika anda ingin kondisi iklim mikro ruangan rumah anda lebih nyaman.

Sebagai wrap up, berikut beberapa tips atau cara agar rumah sejuk dan nyaman di daerah tropis:

  • pastikan jarak antara lantai dengan plafon (floor to ceiling) cukup tinggi;
  • jika memungkinkan, gunakan bukaan (pintu dan jendela) yang lebar/tinggi. Opsi lainnya adalah dengan membuat dinding ‘yang dapat bernafas’ dengan memasang blok roster dengan luasan yang cukup (cross ventilation);
  • pastikan ruangan mendapatkan naung yang cukup. Anda dapat gunakan tritisan, tumbuhan rambat, teralis/kerai, pohon, dsb.;
  • buat ruangan antara yang berfungsi (secara iklim mikro, bukan secara filosofis) mirip dengan pendhapa atau teras;
  • gunakan material bangunan yang alami seperti bambu atau kayu;
  • sediakan elemen tambahan seperti taman kecil di dalam rumah, atau jika rumah lebih luas dapat dibuat inner courtyard dibagian dalam rumah, atau elemen kolam/air mancur. Khusus untuk elemen kolam, perlu selalu dipelihara agar sehat dan tidak menjadi sarang serangga.

Mungkin sebagian tips lebih tepat dipraktikkan sejak saat perencanaan/perancangan rumah anda (seperti membuat bukaan pintu dan jendela yang lebar, plafon yang tinggi), dan sebagian dapat dilakukan bahkan pada saat bangunan rumah anda sudah jadi/ada (penambahan tritisan, penambahan elemen tanaman/tumbuhan rambat atau pohon, penambahan elemen kolam/air mancur, dsb).

Bagaimana pun, semoga beberapa tips tadi dapat membantu anda dalam mengupayakan agar kondisi rumah anda lebih enak. Semoga artikel “cara agar rumah sejuk dan nyaman di daerah tropis” ini bermanfaat bagi anda, para pembaca semuanya. 🙂

Wassalam..

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!