Kerkythea, Render Engines Sekelas V-Ray

Jika Mas Bro adalah mahasiswa/mantan mahasiswa jurusan arsitektur atau arsitek wanna be, Mas Bro pasti sudah tidak asing lagi bila mendengar kata “V-Ray”. Ya, V-Ray merupakan salah satu render engines (sebenarnya lebih tepat disebut sebagai software simulasi numerik untuk pencahayaan foto realistik) yang sangat terkenal dan favorit bagi sebagian besar 3D architectural visualization artist.

Tapi, pernahkah Mas Bro mendengar tentang Kerkythea? Sebagai render engines yang kalah terkenal dibandingkan V-Ray, ternyata rendering engine ini memiliki segudang fitur dan kemampuan yang tidak kalah dengan V-Ray.

Mau tahu apa saja keunggulan Kerkythea? Berikut ini akan kita kupas beberapa kelebihan dan fitur yang terdapat pada Kerkythea, render engine sekelas V-Ray!

1. Hal yang pertama dan utama: Kerkythea itu render engines yang gratis!

Salah satu kata yang seringkali langsung menarik bagi sebagian besar kita, adalah kata “Gratis”.

Hal ini selain berlaku untuk barang-barang yang sifatnya barang fisik, juga berlaku untuk software dan sejenisnya. Orang cenderung suka sesuatu yang berbau “gratisan” hehehe…

Dengan demikian sebagai software gratisan, apabila dibandingkan dengan kompetitornya Kerkythea memiliki satu keunggulan penting. Hal ini karena software sejenis ini biasanya tidak gratis.

Chaos Group sendiri membanderol V-Ray for Sketchup dengan harga sekitar $600 USD! Hal ini tentu bukan tak punya alasan.

Sebagai rendering engine yang telah diakui dan menjadi industry standard, dibandingkan render engine lain, V-Ray memiliki keunggulan di fitur-fiturnya semisal Network rendering,  Physical camera and lighting, section cuts, aerial perspective, dan berbagai keunggulan lain.

Hal ini tentunya sangat berpengaruh dalam meningkatkan kinerja firma arsitektur khususnya firma arsitektur besar.

Namun demikian, bila fungsi-fungsi yang Mas Bro butuhkan tidak mencakup network rendering/render farm, Kerkythea merupakan pilihan cerdas karena selain gratis dan legal, kualitas produksi dari engine ini tergolong sangat baik.

render engines
Loft recreation (Source: Frolfer12 – www.kerkythea.net) 

2. Kerkythea Rendering System merupakan software standalone

Salah satu keunggulan lain dari Kerkythea adalah bahwa engine ini berdiri sendiri (standalone). Kerkythea rendering system bukan merupakan sebuah plugin yang diinstall dalam suatu aplikasi, melainkan Kerkythea adalah aplikasi tersendiri.

Artikel Terkait:  Material Bata yang Tahan Lama: Belajar dari Arsitek Candi Muaro Jambi

Dengan begitu, rendering yang dilakukan tidak membuat software 3D favorit Mas Bro menjadi tidak bisa dipakai hanya karena menunggu waktu render selesai.

Nah, cara kerjanya seperti apa? Kalau anda pengguna SketchUp, anda harus mengunduh plugin Kerkythea dan memasangnya di SketchUp anda.

Setelah Mas Bro selesai melakukan modeling, model dieksport ke Kerkythea. Hasilnya berupa file dengan tipe file .xml (Extensive Markup Language) yang cukup kecil.

Setelah itu, Mas Bro dapat membuka file berekstensi .xml tersebut dalam Kerkythea, menentukan material yang akan diterapkan pada masing-masing bagian model, menetapkan kamera, dan setting renderer.

Untuk memudahkan proses penerapan material sebaiknya Mas Bro sudah melengkapi material yang diinginkan di SketchUp, dan tinggal melakukan load ulang di jendela Kerkythea.

render engines
Material browser di Kerkythea

Baca juga:10 Kursi Armchairs Murah untuk Rumah Anda

3. Kerkythea berjalan di Windows, MacOS, bahkan Linux!

Rasanya, tidak perlu penjelasan lebih jauh tentang hal ini. Umumnya kita sudah mengenal Windows dan sebagian mengenal MacOS dengan baik. Sehingga, mengunduh dan memasang Kerkythea di Windows dan MacOS tentunya tidak rumit.

Yang membuat saya kagum, ternyata hal ini juga berlaku untuk Kerkythea yang di port ke Linux.

Pengguna yang ingin menggunakan Kerkythea di Linux, tinggal mengunduh Kerkythea ini di web penyedia, melakukan ekstraksi dan langsung menggunakannya! Sungguh sederhana dan mudah. Tidak perlu prosedur instalasi yang rumit sama sekali.

Saya menggunakan Deepin Linux sebagai sistem operasi yang berjalan di atas Xiaomi Mi Air 12.5in laptop. Deepin sendiri sebagai distro turunan Ubuntu memiliki tampilan yang clean dan minimalis, serta mudah dan intuitif untuk digunakan dari segi UX.

Sehingga, bagi pengguna linux yang juga pengguna SketchUp, bukan alasan tidak memiliki akses terhadap render engine yang berkualitas dan dapat berjalan di atas linux.

render engines
File executable Kerkythea

4. Render setting yang cukup baik

Mas Bro akan takjub melihat menu render setting Kerkythea yang cukup advance untuk sebuah render engines gratisan.

Kerkythea memiliki 6 (enam) Global Illumination (GI) Methods, yang meliputi: Photon Mapping (Indirect), Photon Mapping (Direct + Indirect), Photon Mapping + Final Gathering (SW), Photon Mapping + Final Gathering (GPU), Diffuse Interreflection, dan Path Tracing.

render engines
Render setup

Selain setting tersebut, terdapat juga setting lain seperti Anti Aliasing (AA), dan stop criterions (semacam boundary condition, dalam istilah yang sering dipakai pada software simulasi numerik). Stop criterion ini antara lain mengatur jumlah maksimal pantulan photon dan kecerahan cahaya.

Artikel Terkait:  Nikmati Bejibun Wahana Seru di Karang Setra Water Land Bandung

Nah, itulah beberapa keunggulan Kerkythea sebagai render engines sekelas V-Ray. Mas Bro penasaran? Mas Bro bisa langsung ke sini untuk mengunduhnya!

Bila Mas Bro anggap informasi ini bermanfaat, jangan lupa Share! 🙂

Terima kasih sudah membaca!

lazada ID INT
News Reporter
Pegawe nyambi, pemerhati arsitektur, stock fotografer, dan linuxer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!