Bagaimana Seorang Arsitek Berpikir?

Bagaimana seorang Arsitek berpikir?

Mungkin ini adalah salah satu pertanyaan terpenting ketika anda akan mulai merencanakan rumah impian anda.

Apakah anda akan merencanakannya sendiri ataukah memanfaatkan bantuan seorang Arsitek, pertanyaan ini tetaplah relevan.

Pertama, apabila anda hendak merencanakan sendiri rumah anda, anda perlu tahu langkah-langkah apa yang setidaknya harus dilakukan ketika merancang sebuah rumah tinggal. Sehingga, anda dapat menghindari kesalahan yang tidak perlu di dalam prosesnya.

Kedua, jika anda memutuskan untuk menggunakan jasa Arsitek dalam merancang rumah anda, anda tentu juga perlu mengetahui jalan pikiran seorang Arsitek, sehingga anda dapat mengkomunikasikan gagasan anda dengan lebih baik. Dengan demikian, rumah tinggal yang dihasilkan pun tetap sesuai dengan kebutuhan anda.

Pada bagian pertama ini, kita akan coba menyelami cara berpikir seorang Arsitek dengan mengikuti penjelasan dari para ahli, mencoba mengenal beberapa mazhab (school of thought) yang dianut Arsitek khususnya yang berpraktik profesi di Indonesia, dan bagaimana anda dapat memanfaatkan pengetahuan ini untuk memudahkan anda merancang rumah tinggal anda.

Apa Kata Ahli

Upaya untuk mempelajari dan memodelkan cara atau mekanisme berproses seorang Arsitek dalam menghasilkan suatu rancangan desain sebenarnya telah dilakukan.

Salah seorang ahli, Melanie Crick, menulis sebuah report tentang penelitiannya mengenai proses kreatif Arsitek dalam membuat suatu karya arsitketur.

Crick dalam laporannya yang berjudul “Exploring Excelence, How Architects Think” berupaya mempelajari dan mencerna metode kreatif dalam merancang sebuah karya arsitektur yang dilakukan seorang Arsitek dan berusaha membuat model dari mekanisme tersebut guna mengetahui kondisi dan mekanisme terbaik untuk membuat suatu desain arsitektural [1].

Studi tersebut dimulai dengan mempelajari literatur khususnya yang terkait dengan mekanisme kognitif dan psikologis yang terdapat dalam proses desain. Berbekal data dan informasi awal tersebut, Crick kemudian melakukan interview kepada Arsitek-Arsitek yang sudah dikenal luas seperti Will Alsop, Mario Botta, Peter Eisenman, Richard Meier, Eric Owen Moss, Glenn Murcutt, Bernard Tschumi dan masih banyak lagi.

Hasil dari interview inilah yang kemudian di analisis dan dibahas dalam konteks teori arsitektur dan teori terkait lainnya dan menjadi dasar dalam menyimpulkan temuan studi ini.

Apa yang menjadi latar belakang Crick menyoroti hal ini sangatlah menarik. Crick sejak awal studi menekankan pada dua hal penting dalam proses kreatif yang perlu untuk dipelajari, yaitu: ‘intuisi’ dan ‘pemahaman/wawasan’.

Hal ini dikarenakan dalam literatur mengenai proses kreatif, belum terlalu banyak dibahas mengenai apa yang terjadi dalam proses kognitif dan psikologis seorang Arsitek dan Desainer tepat sebelum saat proses ‘aha momen’ terjadi [2].

Crick menyatakan bahwa secara umum literatur memiliki kesamaan dalam memandang ‘intuisi’ sebagai komponen utama yang diperlukan pada tahapan proses kreatif seorang Arsitek atau Desainer.

Satu hal penting yang dijelaskan Crick di sini (hal ini juga saya singgung lagi dalam bagian ketiga e-book kami mengenai Enam Tahap Merencanakan Rumah Impian Anda) adalah bahwa pada umumnya literatur sepakat bahwa salah satu prinsip penting dalam proses kreatif pada saat membuat suatu desain adalah kemampuan menerima suatu ‘inspirasi’ tanpa harus mempertanyakan mungkin atau tidaknya ide tersebut diwujudkan [3].

Crick menambahkan, dalam proses berpikir yang tidak termasuk proses kreatif (misalnya, proses berpikir analitis), kebanyakan orang cenderung secara otomatis menolak atau menyangsikan ide yang muncul dari intuisi.

Artikel Terkait:  Berbincang dengan rdb

Pikiran kita sudah terlalu terbiasa untuk menekan dan menolak sesuatu yang menurut pandangan umum merupakan ide yang tidak lumrah dan tidak dapat diterima logika.

Padahal justru kemampuan menerima ide yang muncul dari intuisi tanpa membenturkannya dengan logika inilah yang menurut Crick merupakan salah satu faktor yang kemudian menjadi penentu keberhasilan mengawinkan antara ide yang irasional (intuitif) dengan pemikiran yang rasional (logis) yang dihasilkan dari suatu proses kreatif.

(Catatan: saya merasa perlu memberikan highlight/penekanan pada frasa proses kreatif, karena saya rasa masih banyak dari kita yang mungkin belum bisa membedakan dengan baik antara proses berpikir analitis dan proses berpikir kreatif. Secara sederhana, produk dari suatu proses berpikir analitis adalah hasil analisis/kesimpulan; sedangkan produk dari proses berpikir kreatif adalah produk berupa suatu karya. Pada prakteknya, proses tersebut bisa saling berkelindan)

Pada proses ‘perkawinan’ antara ide yang berasal dari intuisi dengan pemikiran yang rasional inilah, proses verifikasi terhadap ide tersebut terjadi. Iterasi atau pengulangan verifikasi dapat saja terjadi hingga berkali-kali sebagaimana digambarkan Crick dalam laporannya.

Dalam praktik desain (creative problem solving), hal seperti ini sangat lumrah dan biasanya mewujud dalam bentuk aktivitas revisi konsep dan revisi desain yang bisa muncul lebih dari satu kali. Bahkan dalam banyak kasus, bisa muncul banyak opsi konseptual desain yang disertai puluhan kali revisi.

bagaimana seorang arsitek berpikir
Inspirasi [ilustrasi] (Sumber: geralt – pixabay)

Beda Arsitek, Beda Aliran

Selain intuisi dan pemahaman, ternyata ada hal lain yang dapat mempengaruhi bagaimana seorang Arsitek berpikir.

Apabila anda melihat karya-karya arsitektur baik secara langsung maupun melalui media cetak atau elektronik, anda pastilah akan melihat perbedaan style atau gaya dari masing-masing Arsitek yang tercermin dari bangunan yang dia buat.

Selain menunjukkan karakteristik klien sang Arsitek, perbedaan gaya dalam desain yang dihasilkan juga tak bisa lepas dari mazhab atau ‘aliran’ yang dianut oleh Arsiteknya.

Aliran berpikir atau school of thought ini merupakan karakter khusus dari sekelompok Arsitek yang berbagi pemahaman yang sama mengenai filosofi desain.

Sehingga tidak heran jika ada ungkapan “beda Arsitek, beda aliran”. Hal ini semata-mata menggambarkan bahwa di kalangan Arsitek pun terjadi perbedaan-perbedaan dalam memahami suatu proses desain.

Untuk itu, memahami perbedaan-perbedaan ini dapat membantu anda mengenal cara berpikir Arsitek dan memilih Arsitek yang tepat dan sesuai dengan prinsip-prinsip anda.

Dalam bukunya, Korydon Smith, seorang profesor di bidang Arsitektur di US menjelaskan bahwa di bidang Arsitektur, pembentukan teori, metode berpikir, dan aliran (baik gaya/style maupun pemikiran) tidak terjadi sebagaimana pada ilmu pengetahuan alam (sains).

Dalam dunia arsitektur, kumpulan pengetahuan yang kemudian menjadi teori (architectural paradigm) ini seringkali lahir dari sudut pandang individual seorang Arsitek, subjektif, bersifat tidak formal (tidak harus berdasarkan hasil riset empiris), dan berisi satu atau lebih dari beberapa hal berikut ini: asumsi yang dibuat seorang Arsitek tentang dunia di sekelilingnya, pertanyaan (sudut pandang) yang dipilih Arsitek untuk menanyakan sesuatu tentang dunia di sekelilingnya itu, dan metode yang dipakai oleh sang Arsitek untuk menjawab pertanyaan tersebut [4].

Dengan demikian, tidak heran jika anda akan menemukan banyak aliran (baik dalam konteks pemikiran maupun gaya/style) ketika anda menjelajahi halaman majalah-majalah arsitektur, atau ketika mengunjungi berbagai open house yang diadakan Arsitek/pemilik rumah.

Artikel Terkait:  Kerkythea, Render Engines Sekelas V-Ray

Anda tak perlu bingung dengan banyaknya opsi style tersebut. Hal yang perlu anda lakukan adalah kembali ke diri anda sendiri, dan coba jawab tiga hal yang telah disebutkan di atas (asumsi anda tentang dunia di sekitar anda, pertanyaan apa yang ingin anda jawab tentang dunia di sekitar anda tersebut, dan bagaimana anda akan menjawabnya).

Tentunya, kalau anda merasa ragu dalam menjawab tiga hal tersebut anda dapat pergi dan berkonsultasi ke salah satu Arsitek yang memiliki visi yang kurang lebih sama dengan anda. Kecocokan dalam visi ini akan sangat membantu anda dan Arsitek dalam bekerja sama mewujudkan rumah impian anda.

Kabar baiknya, saya mencantumkan daftar beberapa Arsitek muda yang dapat anda hubungi di bagian akhir e-book kami untuk memudahkan anda!

Untuk membaca lebih jauh mengenai aliran dan gaya apa saja yang bisa anda temukan di dunia arsitektur, anda dapat membaca buku “Buildings Accross Time: an Introduction to World Architecture”.

Mengambil Keuntungan dari Cara Berpikir Seorang Arsitek

Sebagaimana telah saya jelaskan di awal, salah satu manfaat mengetahui cara berpikir seorang Arsitek adalah bahwa anda akan dapat setidaknya memahami (meskipun sedikit) hal yang penting dalam suatu proses desain arsitektural.

Dengan modal ini anda nantinya dapat memulai proses merencanakan rumah impian anda sendiri.

Untuk menemukan ide dan gagasan awal, anda dapat mulai meniru proses yang ditempuh seorang Arsitek ketika mulai membuat desain. Kemudian, ketika sudah mulai memasuki hal-hal yang sangat teknis, anda akan dapat lebih mudah mengkomunikasikan ide dan gagasan anda kepada Arsitek yang anda pilih.

Selain itu, keuntungan lain yang bisa anda dapatkan dari mengadopsi cara berpikir seorang Arsitek adalah bahwa ide dan gagasan anda dapat mengalir lebih lancar.

Ketika anda sudah dapat membedakan antara proses berpikir analitis dan proses berpikir kreatif, anda akan dapat memasuki mode berpikir kreatif dengan lebih baik.

Dengan mengadopsi proses berpikir kreatif sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Arsitek, anda dapat mengumpulkan ide dan gagasan awal yang beragam. Tidak terbatas pada hal-hal yang umum dan jamak ditemui saja.

Namun, anda dapat menghadirkan ide-ide yang segar, bahkan mungkin ide yang tidak pernah terpikirkan oleh anda sebelumnya jika anda masih menggunakan pendekatan proses berpikir analitis untuk menghasilkan sesuatu yang lebih tepat jika didekati dengan pendekatan kreatif.

Dalam proses ini, anda sama sekali tidak diharuskan memiliki kemampuan atau skill khusus seperti Arsitek misalnya skill menggambar, sketsa, komputer grafis, dan sebagainya.

Hal yang perlu anda lakukan hanyalah berpikir kreatif dan mulai menghasilkan ide dan gagasan yang anda rasa paling pas dengan karakter dan kebutuhan anda serta keluarga anda.

Dengan demikian, sejak awal gagasan anda sudah memiliki pijakan konseptual yang matang, bahkan sebelum anda membawanya ke depan sang Arsitek yang akan membantu anda mengurusi hal yang lebih teknis.

 

(Tulisan ini juga dimuat dalam E-Book GRATIS kami yang dapat anda download di sini)

 

Referensi:

[1] Crick, M. Exploring Excellence: How Architects Think.
[2] Thurstone dalam Crick, M. Exploring Excellence: How Architects Think.
[3] ibid 1.
[4] Smith, K. (Ed.). (2013). Introducing architectural theory: debating a discipline. Routledge.

Please follow and like us:
News Reporter
Pegawe nyambi, pemerhati arsitektur, stock fotografer, dan linuxer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!