Awalnya Hanya Lahan Sempit Bekas Garasi, Tapi Akhirnya…

Anda yang memiliki lahan kavling yang sempit baik dengan sisa bangunan maupun lahan kosong, jangan lah khawatir. Pasalnya, lahan kavling yang sempit tidak otomatis berarti bahwa lahan tersebut tidak mungkin dimanfaatkan untuk membangun rumah tinggal yang cukup layak. Hal ini dibuktikan oleh seorang fotografer yang juga merupakan pemilik lahan sempit bekas garasi di sebuah sudut di Kota Bordeaux, Perancis, bernama Jérémie Buchholtz ini. Tersudut dengan harga property maupun tarif sewa hunian yang sangat tinggi, ia memutuskan menghubungi rekannya yang seorang arsitek, Fabre/de Marien untuk mengubah garasi sempitnya menjadi hunian yang cozy. Awalnya hanya lahan sempit bekas garasi, tapi akhirnya Fabre/de Marien pun berhasil  mengubahnya menjadi hunian kecil yang berkonsep menarik di sudut Kota Bordeaux!

Sang Arsitek memberi judul karyanya sebagai “Passage Buhan”, artinya Jalan (jalan kecil) Buhan. Memang lokasi proyek ini berada di Rue Buhan, sebuah gang kecil yang terdapat di Kota Bordeaux, Perancis.

awalnya hanya lahan sempit bekas garasi
Jalan Buhan (Sumber: maps.google.com)
awalnya hanya lahan sempit bekas garasi
Penampakan gang/jalan Buhan (Sumber: Google Street View)

Dengan biaya pekerjaan sebesar 35.000 Euro atau sekitar 500 juta rupiah (untuk ukuran masyarakat Eropa dengan upah minimum senilai sekitar 1.500 Euro/bulan, maka biaya ini setara dengan gaji minimum selama 2 tahun), lahan sempit bekas garasi yang ada disulap menjadi hunian 1 kamar dengan luasan sekitar 41 m2.

Untuk memungkinkan hal tersebut, sang Arsitek menggunakan tips dan trik yang umum dipraktekkan di kalangan Arsitek/interior designer (hal ini juga sudah saya singgung dalam tulisan saya sebelumnya di sini) yaitu dengan mengoptimalkan tinggi ruangan. Pada umumnya, orang awam akan melihat ruangan sebagai ruangan dua dimensional saja. Hal ini terlihat saat mereka mendiskusikan mengenai ruang, biasanya atribut ruang yang mereka sebut hanyalah luasnya saja. Artinya, seringkali mereka terjebak pada lebar dan panjangnya saja, dan melupakan aspek ketinggian ruang. Hal inilah yang dieksploitasi oleh Fabre/de marien dengan sangat baik pada proyek ini.

Dengan membuat denah open plan atau tak bersekat rigid, sang Arsitek menempatkan modul furniture tegak yang sekaligus berfungsi sebagai pembentuk ruang yang memanfaatkan asepk tinggi ruangan. Sebuah box modul ditempatkan di tengah ruangan untuk memisahkan area semi privat dengan area privat. Pada bagian atas modul tersebut, ditempatkan ruang tidur. Sedangkan ruang pada bagian dalam modul kotak ini dimanfaatkan untuk kamar mandi yang cukup representatif.

Artikel Terkait:  Tentang Bambu

Selain itu, modul ini juga dimanfaatkan sebagai lemari penyimpanan, sehingga ruangan dalam rumah ini meskipun cukup sempit tetap terlihat rapi dan nyaman ditempati.

Untuk mengurangi kesan sempit, sang Arsitek juga menempatkan elemen pintu geser kaca yang lebar sehingga pandangan penghuni dapat langsung mencapai ruangan teras depan.

awalnya hanya lahan sempit bekas garasi
Modul kotak yang berfungsi membentuk empat ruang sekaligus yaitu ruang keluarga, ruang kerja, ruang tidur, dan kamar mandi (Sumber: Jeremie Buchholtz, Fabre/deMarien)

Untuk lebih jelasnya, anda dapat berkunjung dan melihat-lihat foto serta dokumentasi proyek tersebut di laman resmi Arsitek Fabre/de Marien di sini. Nah, berikut ini juga saya sertakan/embed video liputan mengenai proyek tersebut yang dibuat oleh Kirsten Dirksen dari faircompanies.com. Selamat belajar! 🙂

 

Please follow and like us:
News Reporter
Pegawe nyambi, pemerhati arsitektur, stock fotografer, dan linuxer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!