cara delution architect menyikapi pandemic dalam desain arsitektural

Menyikapi Pandemic dalam Desain Arsitektur a la Delution Architect

Apabila anda pernah mendengar bebera saat lalu tentang sebuah penghargaan arsitektur Architizer A+ Awards yang diterima suatu desain rumah tinggal di tengah kawasan padat di Jakarta, tentu anda tak asing lagi dengan nama Delution Architect. Ya, biro arsitek inilah yang menelurkan desain yang memenangi penghargaan tersebut.

Nah, Archinesia dalam salah satu acaranya beberapa waktu lalu mengundang Hezby Ryandi, salah satu co-founder Delution untuk berbagi mengenai sudut pandang dan strategi atau cara Delution Architect menyikapi pandemic dalam desain arsitektural mereka.

Dalam webinar tersebut, Hezby menceritakan strategi yang diambil oleh Delution, khususnya post pandemic design strategy (strategi desain arsitektur pascapandemi) untuk desain-desain landed house.

Hezby sendiri mengawali penjelasannya dengan menyodorkan sebuah paradigma baru dalam berarsitektur versi Delution.

Menurutnya, arsitektur dan desain sebaiknya tidak hanya menyentuh aspek fungsi dan manfaat untuk klien sebagai pengguna suatu desain arsitektur. Namun desain semestinya bisa memberikan manfaat lebih untuk komunitas di sekitarnya, termasuk menjadi “icon” suatu hasil kerja arsitektur.

Dia menambahkan, bahwa arsitektur haruslah mampu membantu memberikan solusi terhadap permasalahan yang ada di tengah masyarakat. Solusi tersebut khususnya menyentuh permasalahan yang belum dapat diatasi disiplin ilmu lainnya.

Ia kemudian mengkritisi solusi arsitektur yang seringkali menampilkan solusi yang serupa, tipikal, dan mirip untuk semua jenis perumahan baik rumah susun atau apartemen dan landed house.

Desain yang muncul sebagai solusi umumnya adalah desain yang hampir mirip di satu tempat maupun tempat lainnya. Hampir tidak ada keunikannya.

Nah, padahal, menurutnya solusi tersebut bisa dieksplorasi lebih jauh dan disesuaikan dengan kebutuhan usernya.

Ia lalu mencontohkan sebuah ruang keluarga yang didesain secara tipikal, dan ruang keluarga yang didesain sesuai kebutuhan penghuni dan bahkan dapat menciptakan pengalaman ruang yang tidak monoton dan lebih kreatif.

cara delution architect menyikapi pandemic dalam desain arsitektural

6 Strategi Delution Architect Menghadapi Pandemic dengan Desain Arsitektur

Menurut Hezby, terdapat setidaknya 6 strategi yang diambil oleh Delution Architect dalam menyikapi pandemi saat harus menciptakan suatu desain arsitektur.

Artikel Terkait:  Material Bata yang Tahan Lama: Belajar dari Arsitek Candi Muaro Jambi

Keenam strategi tersebut yaitu:

  1. New interest in adaptable layout (adanya tren ketertarikan terhadap layout yang adaptif/fleksibel)
  2. Multifunction and integrated outdoor space (solusi dengan area luar ruangan yang multifungsi)
  3. New forms of home office (mencangkokkan bentuk/pendekatan baru kantor-dalam-rumah atau tempat kerja di dalam rumah)
  4. Sanitized entryways (menempatkan area servis berupa tempat membersihkan diri sebelum penghuni memasuki rumah)
  5. Air cross-ventilation and natural light (mengoptimalkan bukaan untuk menghasilkan penghawaan dan pencahayaan alami yang baik dalam bangunan), serta
  6. Unique additional space request (adanya tren ketertarikan klien untuk meminta dibuatkan ruang-ruang yang unik sesuai kebutuhannya)
6 Strategi / Cara Delution Architect menyikapi pandemic dalam desain arsitektural

Itulah 6 strategi utama yang nampaknya diterapkan oleh Delution Architect dalam menghadapi era pascapandemi ini.

Ia lalu mencontohkan dengan menampilkan plan dari beberapa karya Delution Architect, diantaranya Loop House.

Hal ini untuk menunjukkan strategi pertama, dimana user/klien mulai banyak tertarik menggunakan layout ruang yang adaptif dan dapat dimanfaatkan untuk lebih dari satu aktivitas.

Di karyanya yang lain, ia juga mencontohkan sequence of greenery house sebagai perwujudan strategi kedua, dimana ruang-ruang luar (outdoor space) dibuat sebagai ruang multifungsi dan terintegrasi.

Untuk mencontohkan penerapan strategi ketiga, ia lalu menampilkan karya Delution yaitu Intro Box house, Co Plant house dan Terasharing house.

Dalam contoh ini, bentuk “ruang bekerja” baru di rumah tinggal didefinisikan ulang oleh Delution untuk memenuhi kebutuhan penghuninya.

Misalnya pada Intro Box house, ruangan yang terbatas tetap dapat disulap menjadi ruang kerja di dalam rumah yang sesuai kebutuhan klien.

Dalam contoh lain, Terasharing house, area tertentu dari rumah (teras) dapat pula difungsikan sebagai area bersama (sharing space) untuk bekerja.

Nah, untuk strategi kelima, Hezby menampilkan rumah yang memenangi penghargaan Architizer A+ Awards baru-baru ini sebagai contohnya.

The Twins (house), sebuah rumah yang berada di kawasan Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan ini juga merupakan salah satu contoh penerapan strategi optimalisasi penghawaan alami dan pencahayaan alami oleh Delution.

The Twins merupakan salah satu contoh dimana lahan sempit bukan menjadi alasan untuk tidak dapat merancang dan membuat sebuah solusi rumah urban yang sehat dan tetap memenuhi kaidah-kaidah arsitektural.

Artikel Terkait:  Awalnya Hanya Lahan Sempit Bekas Garasi, Tapi Akhirnya...

Sedangkan contoh-contoh untuk strategi keenam juga tak lupa disampaikan Hezby dengan menunjukkan karya-karya Delution yang menampilkan ruang-ruang unik khusus yang merupakan permintaan para kliennya.

Nah, itulah beberapa strategi dan cara Delution Architect menyikapi pandemic dalam desain arsitektural yang dibagikan dalam acara sharing session Archinesia beberapa saat lalu.

Semoga informasi di laman ini dapat menambah pengetahuan para pembaca semuanya ya..

Terima kasih dan jangan lupa share ya..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!