material bata yang tahan lama

Material Bata yang Tahan Lama: Belajar dari Arsitek Candi Muaro Jambi

Material bata merupakan salah satu material penyusun bangunan yang paling sering kita jumpai saat ini. Meskipun banyak bangunan dewasa ini menggunakan material yang lebih modern seperti beton maupun baja, penggunaan bata sebagai salah satu material bangunan tidak begitu saja ditinggalkan. Kali ini, rumahdaribambu.com ingin mengetengahkan topik tentang “Material Bata yang Tahan Lama: Belajar dari Arsitek Candi Muaro Jambi”.

Beberapa waktu yang lalu, dikarenakan suatu tugas kantor saya berkesempatan mengunjungi tanah Jambi, di Pulau Sumatera. Di sana, mengingat salah satu tugas saya terkait erat dengan pengembangan wilayah dan kawasan khususnya kawasan strategis, maka saya sebagai bagian dari tim sengaja mampir ke salah satu kawasan konservasi yang strategis di Provinsi Jambi, yaitu kompleks Candi Muaro Jambi.

Bukan suatu kebetulan bahwa wilayah Sumatera bagian Selatan dulunya memiliki keterikatan sejarah yang kuat dengan kerajaan Sriwijaya. Meskipun terdapat beberapa wilayah yang mengklaim sebagai pusat cikal bakal kerajaan Sriwijaya (Palembang, Jambi, dan Kedah-Malaysia) [1],  rasa keingintahuan saya terhadap kompleks candi di Muaro Jambi ini tidaklah menjadi sirna.

Candi Muaro Jambi merupakan kompleks candi di dekat Sungai Batanghari, Jambi, yang menurut informasi merupakan komplek “universitas” pada masanya. Universitas ini merupakan universitas yang khusus mempelajari mengenai agama Budha, dan mirip dengan Universitas Nalanda di India pada masa yang sama. Saat keadaan di India tidak kondusif akibat invasi, maka universitas Nalanda dipindahkan ke Sriwijaya, mengingat banyak mahasiswa universitas tersebut berasal dari Sriwijaya [2].

Hal ini cukup menarik, menurut Ahok (Abdul Hafiz, red), salah seorang pegiat sejarah dan budaya Jambi yang menemani kami berkeliling kompleks Candi Muaro Jambi, universitas dibangun di sisi Sungai Batanghari sehingga memudahkan pergerakan mahasiswa (asing) untuk datang dan pergi ke kompleks pendidikan ini. Mengingat pada saat itu sarana transportasi jarak jauh yanhg utama adalah kapal/perahu, maka waktu belajar dari mahasiswa ini juga menyesuaikan dengan datangnya musim angin yang bisa membawa serta kapal/perahu untuk berlayar.

Kawasan Candi Muaro Jambi ini, selain memiliki daya tarik dari sisi kisahnya, bagi saya pribadi juga memiliki daya tarik dari sisi fisik bangunan candinya.

Candi Muaro Jambi merupakan salah satu bangunan candi kuno yang tidak banyak menggunakan material batu sebagai material pembentuk utama bangunan candi, melainkan lebih banyak menggunakan material batu bata.

Material batu memang dipakai pada beberapa elemen dan sudut bangunan, misalnya sebagai pengunci susunan bata pada bagian sudut bangunan, sebagai umpak batu yang dikombinasikan dengan rangka bangunan dari kayu, maupun sebagai material utama dari arca dan makara yang terdapat di bagian-bagian candi.

Mengapa material batu bata pada bangunan Candi Muaro Jambi ini begitu menarik?

Hal ini tak lain dikarenakan bahwa ternyata, sebagai candi yang diperkirakan dibangun ratusan tahun yang lalu, kondisi batu bata asli yang membentuk susunan bangunan Candi Muaro Jambi masih terpelihara dalam kondisi yang cukup baik.

Selain itu, melihat bangunan candi yang merupakan hasil preservasi kita akan dapat melihat kualitas craftmanship para arsitek dan tukang serta artisan pada masa itu. Susunan batu bata merah pembentuk bangunan candi disusun secara apik dan lurus. Apakah pada saat itu sudah terdapat waterpas ataupun penggaris busur saya kurang tahu pasti. Akan tetapi melihat kualitas penataan batu bata yang presisi dan rapi saya meyakini jika arsitek Candi Muaro Jambi pada masa itu sudah mengenal matematika, geometri, serta ilmu pertukangan yang cukup rumit dan kompleks.

Material Bata yang Tahan Lama

Apabila kita melihat secara lebih detail, maka kita akan dibuat lebih kagum lagi.

Jika kita memperhatikan dengan seksama batu bata yang dipakai untuk menyusun bangunan candi, maka kita akan bisa melihat adanya perbedaan komposisi penyusun material bata tersebut dengan batu bata yang dibuat dewasa ini.

Berikut ini beberapa foto batu bata asli Candi Muaro Jambi jika dibandingkan dengan batu bata merah yang dibuat pada jaman modern:

material bata yang tahan lama
Batu bata asli Candi Muaro Jambi
material bata yang tahan lama
Perbedaan bata kuno dan bata baru

Apabila diperhatikan betul-betul, meskipun hanya melihat sepintas saja, kita akan dapat melihat perbedaan signifikan dari kedua jenis bata yang terdapat dalam foto di atas dari aspek tekstur dan aspek warna.

Dari aspek tekstur, terlihat jelas bahwa bata lama memiliki tekstur “berpasir”, sedangkan batu bata baru lebih halus. Selain itu, warna merah pada batu bata kuno terlihat lebih matang jika dibandingkan dengan batu bata yang dibuat dengan teknik baru/modern.

Namun, benarkah tekstur yang muncul pada bagian luar bata kuno di Candi Muaro Jambi tersebut merupakan petunjuk mengenai kemungkinan komposisi pembentuknya?

Mari kita lihat beberapa foto lainnya:

material bata yang tahan lama
Batu bata kuno yang hancur dan tak lagi bisa direkonstruksi
material bata yang tahan lama
Tekstur bata kuno Muaro Jambi dari dekat

Secara kasat mata sepertinya memang tekstur yang terdapat pada bata kuno di kompleks Candi Muaro Jambi ini sedikit memberi clue mengenai bahan penyusunnya. Salah satu yang mungkin terkandung di dalamnya barangkali pasir dan bubuk abu/arang, atau butir-butir pecahan karang. Faktor kematangan bata dan kepadatan bata sepertinya juga mempengaruhi keawetan bata kuno ini.

Akan tetapi, untuk benar-benar mengetahui komposisi batu bata merah Muaro Jambi yang memiliki ketahanan kuat tersebut tentunya kita perlu melihat hasil-hasil penelitian ilmiah yang ada.

Sayangnya, saya sendiri belum dapat menemukan secara lengkap artikel ilmiah terkait yang khusus membahas mengenai komposisi material batu bata merah kuno yang terdapat di Candi Muaro Jambi ini.

Munandar (2010) [3] dalam artikelnya yang berjudul “Kerusakan dan Pelapukan Material Bata” menyampaikan empat tipe kerusakan dan pelabukan material bata (dalam konteks preservasi bangunan candi yang tersusun dari batu bata), yaitu: kerusakan fisis, kerusakan mekanis, pelapukan kimiawi, dan pelapukan biologis.

Faktor penyebab kerusakan itu sendiri menurut Munandar (2010) terjadi akibat faktor internal (kualitas bahan, teknologi/metode pembuatan, teknik pemasangan dan posisi pada bangunan, dan sifat-sifat internal lain), serta faktor eksternal (iklim, cuaca, bencana, faktor manusia, dsb).

Munandar dalam artikelnya tersebut menjelaskan bahwa bahan dasar yang baik untuk membuat batu bata adalah tanah lempung dan pasir dengan perbandingan tertentu (berdasarkan pengalaman pengrajin bata). Apabila kandungan lempung terlalu banyak, bata akan mudah pecah ataupun retak pada saat pengeringan. Sedangkan apabila terlalu banyak kandungan pasir, batu bata akan bersifat mudah patah.

Bata yang baik biasanya dibuat dari bahan dasar yang baik, memiliki kuat tekan yang baik, serta tingkat porositas yang terjaga (lebih kedap air lebih baik). Pembakaran bata dengan kayu keras akan menghasilkan bata yang lebih baik daripada jika dibakar dengan sekam. Hal ini mengingat temperatur yang dihasilkan pada saat pembakaran dan zat karbon yang juga akan berperan pada proses pembakaran. [4]

Dari sisi ukuran, ukuran bata di Candi Muaro Jambi ini memiliki panjang 24-35 cm, lebar 14-22cm, serta tebal 4-8cm. [5]

material bata yang tahan lama
Batu bata kuno bergambar teratai di Muaro Jambi

Apabila anda memiliki informasi yang menarik mengenai material bata yang tahan lama, jangan sungkan untuk berbagi dan berkomentar sehingga dapat memperkaya pengetahuan kita semua tentang material bata khususnya bata merah.

Terima kasih sudah membaca! 🙂

material bata yang tahan lama
Mengamati pecahan bata

 

UPDATE 31 Juli 2018:

Pada minggu ini selama 5 hari, saya beruntung mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Workshop yang diadakan UNESCO bekerjasama dengan Kemendikbud tentang “Capacity Building Workshop for Enhancing the Management of Cultural Landscape” yang diadakan di Yogyakarta.

Pada salah satu kesempatan paparan, yaitu paparan yang disampaikan oleh Ahli Konservasi dari Balai Konservasi Borobudur, salah satu hal yang membuat saya tertarik adalah bahwa menurut beliau terdapat periodisasi atau tren pemilihan material yang dipakai untuk membangun candi. Polanya adalah bahwa pada sekitar sebelum abad ke 7, peninggalan sejarah berupa bangunan candi dan semacamnya masih menggunakan material bata merah. Kemudian pada sekitar abad ke 7-8 hingga abad 12, terjadi pergeseran pemilihan material menggunakan material batu.

Hal ini dapat dilihat pada candi-candi yang ada di Nusantara waktu itu, sebagai contoh adalah situs Batujaya (pra abad ke-7) masih menggunakan material bata. Sedangkan mulai abad ke-7 hingga abad ke-12, kompleks candi seperti Dieng, Gedongsongo, Borobudur, Kalasan, Sewu, Prambanan, dan Plaosan menggunakan material utama yaitu batu.

Sedangkan kompleks candi Muaro Jambi, Muara Takus, Padang Lawas, dan situs Trowulan Majapahit kembali menggunakan batu bata merah sebagai material utamanya.

Hal ini mirip dengan apa yang terjadi di daerah Asia Tenggara lainnya seperti di Kamboja dan sekitarnya. Candi-candi peninggalan Pre-Ankor dan Sambor Prei Kuk menggunakan material bata merah sebagai bahan utamanya sampai dengan abad ke-8. Kemudian tren yang sama terjadi, yaitu perubahan penggunaan material dari bata merah menjadi menggunakan batu hingga sekitar abad ke-13 sebagaimana terlihat pada Candi Bakeng, Pnhom Bakheng, Ta Keo, Bayon, dan Angkor Wat. Sedangkan Siamese Temple dan Ayuttahaya kembali menggunakan material bata merah.

Hal ini cukup menarik tentunya. Bisa jadi memang terdapat pergeseran tren material yang pengaruhnya secara geografis meluas tidak hanya di Nusantara namun hingga daerah Indochina, atau memang pengaruh wilayah kekuasaan kerajaan-kerajaan di Nusantara memang hingga wilayah Asia Tenggara lainnya, atau sebaliknya. Kemungkinan lainnya, memang sudah terjalin hubungan yang erat antar kerajaan yang berada di kawasan Asia Tenggara sejak dulu kala, baik kerjasama perdagangan, pendidikan, maupun keagamaan. Namun, tentunya kita perlu menggali dan membaca lebih dalam lagi berbagai literatur yang ada terkait ini, meskipun menurut Ahli dari Balai Konservasi Borobudur riset mengenai hal ini juga masih sangat terbatas dan masih terbuka peluang bagi peneliti untuk meneliti tren penggunaan material ini.

 

Referensi:

[1] MUARA JAMBI: Saksi Pusat Kerajaan Berpindah. (2013, July 22). Retrieved March 11, 2018, from https://hurahura.wordpress.com/2013/07/22/muara-jambi-saksi-pusat-kerajaan-berpindah/

[2] Candi Muaro Jambi, Kampus Peninggalan Kerajaan Sriwijaya. (n.d.). Retrieved March 11, 2018, from https://travel.kompas.com/read/2017/03/20/160300327/candi.muaro.jambi.kampus.peninggalan.kerajaan.sriwijaya

[3] Munandar, Aris (2010) Kerusakan dan pelapukan material bata. Jurnal Konservasi Benda Cagar Budaya Borobudur, IV (4). pp. 55-61. ISSN 19788584

[4] Ibid 3.

[5] Swastikawati, Ari (2011) Standar pengujian kualitas bata pengganti. Jurnal Konservasi Benda Cagar Budaya Borobudur, V (5). pp. 4-8. ISSN 19788584

bekerjasama dengan arsitek

Bekerjasama dengan Arsitek

Saat mulai merancang rumah idaman anda, tidak jarang anda kesulitan untuk mentransfer gagasan dan konsep yang sudah anda miliki menjadi produk berupa gambar kerja dan dokumen teknis lainnya.

Nah, inilah saat yang tepat bagi anda untuk mencari bantuan dari ahlinya. Sebagai informasi, saat ini banyak sekali arsitek muda di Indonesia yang memiliki banyak prestasi dan dapat membantu anda mewujudkan impian anda memiliki rumah tinggal yang nyaman.

Apabila anda memutuskan untuk bekerjasama dengan seorang Arsitek, ada beberapa hal yang perlu anda ketahui. Tiga hal yang setidaknya anda ketahui antara lain yaitu: pengetahuan mengenai kontrak, hak dan kewajiban anda (sebagai klien), serta hak dan kewajiban Arsitek (sebagai penyedia jasa).

Bagian berikut akan membahas ketiga hal tersebut secara singkat.

1. Kontrak (perjanjian kerja)

Kontrak atau perjanjian kerja dalam konteks ini merupakan perjanjian kerja yang dibuat oleh Arsitek dan Pengguna Jasa Arsitek kaitannya dengan pekerjaan Praktik Arsitek tertentu.

Biasanya draft kontrak/perjanjian kerja ini akan dibuat oleh Arsitek dan tim-nya, sementara anda sebagai Pengguna Jasa Arsitek akan diberikan kesempatan memeriksa dan meminta revisi bila ada hal yang tidak disepakati.

Perjanjian kerja ini secara umum hampir sama dengan perjanjian kerja yang lain, hanya saja konteksnya lebih mengarah pada pekerjaan perancangan/perencanaan arsitektur.

Beberapa hal yang biasanya akan tercantum dalam perjanjian kerja ini antara lain: judul perjanjian beserta nomor, para pihak yang menandatangani perjanjian, dasar perjanjian kerja, (lingkup) tugas pekerjaan, jangka waktu pelaksanaan pekerjaan, kewajiban dan tanggung jawab pihak pertama dan pihak kedua, hasil pekerjaan, biaya perancangan, pelaksanaan pembayaran, pekerjaan tambah kurang, sanksi dan denda, pemutusan hubungan kerja, force majeure, penyelesaian perselisihan/sengketa, penutup, serta tanda tangan para pihak.

Anda dapat menemukan banyak sekali contoh perjanjian kerja ini di internet.

Jika anda ingin mempelajarinya secara lebih detil anda dapat membaca buku-buku terkait kontrak kerja konstruksi yang terkait.

bekerjasama dengan arsitek
Kontrak atau perjanjian kerja [ilustrasi] (Sumber: geralt – pixabay)

2. Hak dan Kewajiban Arsitek (sebagai penyedia jasa)

Dengan telah ditetapkannya UU Nomor 6 Tahun 2017 tentang Arsitek, maka rumusan hak dan kewajiban Arsitek dalam berpraktik profesi sebagai Arsitek sudah sangat jelas.

Hal ini tercantum dalam UU Arsitek khususnya pasal 21 dan 22. Hak seorang Arsitek yaitu:
a. Memperoleh jaminan perlindungan hukum selama melaksanakan Praktik Arsitek sesuai dengan kode etik profesi Arsitek dan standar kinerja Arsitek di Indonesia;
b. Memperoleh informasi, data, dan dokumen lain yang lengkap dan benar dari Pengguna Jasa Arsitek sesuai dengan keperluan dan ketentuan peraturan perundang-undangan;
c. Mendaftarkan hak kekayaan intelektual atas hasil karyanya;
d. Menerima imbalan hasil kerja sesuai dengan perjanjian kerja; dan
e. Mendapatkan pembinaan dan kesempatan dalam meningkatkan kompetensi profesi Arsitek.

Sementara itu, kewajiban seorang Arsitek yaitu:
a. Melaksanakan Praktik Arsitek sesuai dengan keahlian, kode etik profesi Arsitek, kualifikasi yang dimiliki, dan standar kinerja Arsitek;
b. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan perjanjian kerja dengan Pengguna Jasa Arsitek;
c. Melaksanakan profesinya tanpa membedakan suku, agama, ras, gender, golongan, latar belakang sosial, politik, dan budaya;
d. Menjunjung tinggi nilai budaya Indonesia;
e. Memutakhirkan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan;
f. Mengutamakan kaidah keselamatan dan kesehatan kerja serta kelestarian lingkungan;
g. Mengupayakan inovasi dan nilai tambah dalam Praktik Arsitek;
h. Mengutamakan penggunaan sumber daya dan produk dalam negeri;
i. Memberikan layanan Praktik Arsitek terkait kepentingan sosial tanpa dipungut biaya;
j. Melakukan pencatatan rekam kerja Arsitek sesuai dengan standar kinerja Arsitek;
k. Melaksanakan kebijakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
l. Mengikuti standar kinerja Arsitek serta mematuhi seluruh ketentuan keprofesian yang ditetapkan oleh Organisasi Profesi.

3. Hak dan Kewajiban Anda (sebagai pengguna jasa arsitek)

Selain mengatur hak dan kewajiban Arsitek, UU Arsitek juga mengatur mengenai hak dan kewajiban Pengguna Jasa Arsitek.

Nah, jika anda memutuskan bekerjasama dengan Arsitek, anda perlu mencermati hak dan kewajiban anda sebagai Pengguna Jasa Arsitek berikut ini.

Hak Pengguna Jasa Arsitek yaitu:
a. Mendapatkan layanan Praktik Arsitek sesuai dengan perjanjian kerja;
b. Mendapatkan informasi secara lengkap dan benar atas jasa dan hasil Praktik Arsitek;
c. Memperoleh perlindungan hukum atas jasa dan hasil Praktik Arsitek;
d. Menyampaikan pendapat dan memperoleh tanggapan atas pelaksanaan Praktik Arsitek;
e. Menolak hasil Praktik Arsitek yang tidak sesuai dengan perjanjian kerja; dan
f. Melakukan upaya hukum atas pelanggaran perjanjian kerja sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Sedangkan kewajiban Pengguna Jasa Arsitek berdasarkan UU Arsitek yaitu:
a. Memberikan informasi, data, dan dokumen yang lengkap dan benar mengenai pekerjaan yang akan dilaksanakan;
b. Mengikuti petunjuk Arsitek sesuai dengan perjanjian kerja;
c. Memberikan imbalan jasa sesuai dengan perjanjian kerja berdasarkan standar keprofesionalan Arsitek; dan
d. Mematuhi ketentuan yang berlaku di tempat pelaksanaan pekerjaan.

sebelum mulai merancang

Sebelum Mulai Merancang

Menurut Anda, apa yang lebih dulu perlu diketahui sebelum merancang sebuah rumah tinggal?

Banyak hal yang bisa dipelajari dan memang perlu diketahui sebelum merancang sebuah rumah tinggal. Namun, dalam tulisan ini saya memilih untuk membahas mengenai tiga hal yang menurut saya penting: standar dalam arsitektur, aturan-aturan, dan istilah-istilah dalam arsitektur.

Standar dalam Arsitektur

Jika anda hendak membuat suatu desain baik itu desain suatu produk dan desain arsitektural, ada baiknya anda memiliki pengetahuan mengenai standar-standar desain terkait.

Dalam bidang arsitektur, salah satu standar yang penting untuk diketahui adalah Neufert Data Arsitek.

Neufert Data Arsitek adalah buku berisi kumpulan standar ukuran produk-produk arsitektural, yang meliputi ukuran ruang hingga ukuran standar furnitur.

Meskipun Neufert Data Arsitek adalah standar yang paling umum digunakan oleh Arsitek dalam membuat desain, perlu diingat bahwa standar tersebut merupakan standar yang dibuat sesuai standar ukuran orang Barat.

Dengan demikian, meskipun bisa langsung dimanfaatkan, kita masih dapat melakukan sedikit modifikasi menyesuaikan standar ukuran orang Asia pada umumnya.

Bahkan, jika anda mencoba membaca dan mempelajari juga mengenai arsitektur tradisional Indonesia anda akan menemukan bahwa nenek moyang kita pun sebenarnya sudah memiliki dan menetapkan standar ukuran sebagaimana Data Arsitek ini namun dengan standar ukuran orang Indonesia.
Apabila anda pernah mendengar atau membaca mengenai ukuran “jengkal”, “depa” atau “tombak” dalam buku, sandiwara radio maupun film silat Indonesia berarti anda sudah tidak asing lagi dengan standar ukuran tradisional.

Hal ini penting untuk anda ketahui, mengingat ide dan gagasan yang bisa muncul dalam benak anda bisa bermacam-macam. Termasuk adanya kemungkinan bahwa anda ternyata lebih menyukai arsitektur tradisional dibandingkan arsitektur modern ataupun arsitektur terkini.

Namun demikian, anda tidak harus masuk jauh lebih detil pada ukuran-ukuran tersebut. Anda hanya perlu menyadari bahwa jika anda menginginkan rumah tinggal anda nyaman untuk ditinggali anda perlu betul-betul memperhatikan standar arsitektur.

Salah satu contoh yang paling sederhana dan banyak saya temukan di bangunan-bangunan yang tidak dirancang dengan baik yaitu tinggi dan jumlah anak tangga.

Hal ini terdengar sepele, namun anda akan dapat merasakan perbedaan yang signifikan saat anda menaiki tangga yang didesain dengan memperhatikan standar arsitektur dan tangga yang didesain alakadarnya.

Dalam standar arsitektur, tinggi anak tangga (optrade) yang baik antara 15-20 cm (biasanya akan dicari nilai tengahnya yaitu 18 cm) dengan lebar (aantrade) sekitar 30-35 cm (dengan mempertimbangkan keterampilan tukang di Indonesia pada umumnya, terkadang kita perlu menambah beberapa ukuran beberapa cm untuk mengantisipasi kurangnya presisi pada saat pengerjaan).

Nah, apabila anda kurang teliti anda bisa jadi akan melupakan detil-detil kecil semacam ini. Tentunya jika anda memanfaatkan bantuan Arsitek hal seperti ini pastinya sudah terpikirkan. Namun jika anda merencanakan sendiri pada tahap-tahap awal, anda perlu mempertimbangkan ukuran-ukuran standar dalam arsitektur.

Buku Neufert Data Arsitek sendiri sangat mudah ditemukan di toko-toko buku di Indonesia karena memang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Apabila anda ingin membaca dan mempelajari lebih jauh mengenai standar ukuran dalam arsitektur di buku Neufert Data Arsitek, anda dapat menuju ke laman ini untuk mencari buku yang sesuai dengan apa yang anda butuhkan.

sebelum mulai merancang
Standar dalam arsitektur [ilustrasi] (Sumber: DCG_MAK – pixabay)

Aturan-aturan

Sebelum mulai merancang, ada baiknya anda juga mulai mempelajari peraturan-peraturan yang terkait dengan rumah tinggal. Mulai dari Undang-Undang Bangunan Gedung, Undang-Undang Arsitek, hingga Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) atau Urban Design Guidelines (UDGL), Perda mengenai Bangunan Gedung dan IMB, dan aturan terkait lainnya.

Dengan mempelajari dan memahami masing-masing aturan tersebut, anda akan terhindar dari pelanggaran yang mungkin terjadi pada saat anda mulai merancang dan membangun rumah tinggal anda.

Selain itu, hal ini akan memudahkan anda nantinya saat anda mulai mengurus perijinan-perijinan terkait, misalnya Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) karena anda telah mengetahui apa saja yang perlu disiapkan untuk mengurus ijin tersebut dan ketentuan-ketentuan apa yang harus diikuti.

Membaca dan mempelajari Perda mengenai RTRW, RDTR memungkinkan anda terhindar dari pelanggaran terhadap Peraturan Zonasi.

Mungkin anda jarang mendengar mengenai peraturan ini. Peraturan Zonasi ini terdiri dari Zoning Map dan Zoning Text yang mengatur zona-zona tertentu yang dapat dimanfaatkan untuk membangun rumah tinggal di dalam suatu kawasan.

Dalam Peraturan Zonasi ditetapkan aturan mengenai apa yang diijinkan untuk dibangun (I), apa yang diijinkan dibangun secara terbatas (T), apa yang diijinkan dengan syarat tertentu (B) dan apa yang dilarang untuk dibangun (X).

Untuk dapat membaca mengenai aturan RTRW di kabupaten/kota anda, anda dapat menuju laman Ditjen Bina Bangda Kemendagri ini. Selain itu, jika di kota anda terdapat planning gallery (seperti misalnya di DKI Jakarta dan di Bandung), anda dapat langsung mengunjungi planning gallery dan menanyakan hal terkait zona dan lokasi rencana rumah tinggal anda di sana.

sebelum mulai merancang
Pahami aturan terkait yang ada (Sumber: geralt – pixabay)

 

(Tulisan ini juga dimuat dalam E-Book GRATIS kami yang dapat anda download di sini)

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!