dan lok: educating new marketing

Dan Lok: “Educating is the New Marketing”

Hari Jumat pagi kemarin sebelum berangkat ke kantor, perhatian saya tiba-tiba tertuju pada sebuah video di laman youtube tentang marketing di era informasi. Hal yang membuat saya tertarik adalah satu poin yang disampaikan Dan Lok, narasumber vlog tersebut. Satu poin penting yang disampaikan oleh Dan Lok: “Educating is the New Marketing“[source]. Karenanya, kali ini, saya tidak akan menulis mengenai rumah urban secara khusus.

Mungkin agak aneh ya Mas Bro, kalau laman ini tiba-tiba membahas soal marketing. Akan tetapi, sebenarnya peluncuran rumahdaribambu.com juga tidak lepas dari upaya saya untuk melatih jiwa entrepreneurship. Sesuatu yang sulit saya dapatkan dalam suasana kerja kantoran yang bisa dibilang rutin itu. Oleh karena itu, rumahdaribambu diluncurkan. Nah, sejalan dengan hal yang diungkapkan Dan Lok, secara tidak disadari rumahdaribambu.com ternyata juga mengikuti pendekatan yang sama. Rumahdaribambu ingin memberikan nilai tambah yang edukatif dan manfaat bagi para pembacanya, dengan membantu pembaca memperoleh perspektif lain mengenai rumah urban, rumah sederhana di perkotaan, dan penggunaan material alami seperti bambu pada bangunan.

Namun, untuk bisa benar-benar menghadirkan manfaat, satu pertanyaan penting harus bisa dijawab: “Apa persoalan mendasar yang dihadapi banyak orang terkait rumah tinggal khususnya di kota besar, dan feedback apa yang mereka butuhkan”?

(Mas Bro juga dapat menyampaikan lho di kolom komentar tentang hal seputar rumah urban sederhana dan bambu yang menurut anda perlu dibahas dan Mas Bro pikir dapat memberi manfaat bagi orang banyak)

Saya memulai rumahdaribambu.com tanpa sebelumnya melakukan riset –meskipun hanya riset kecil-kecilan– mengenai hal ini. Karenanya, mungkin manfaat yang didapat pembaca dari laman ini sampai dengan saat ini juga belumlah begitu terasa. Posting saya kali ini, akan coba menggali hal/informasi apa saja yang mungkin dibutuhkan oleh pembaca untuk membantu mereka dalam merencanakan dan merancang rumah urban idamannya. Saya berharap, dengan pendekatan ini, artikel selanjutnya dapat lebih bermanfaat bagi para pembaca. 🙂 Kalau pun tulisan ini tidak bermanfaat secara khusus terkait topik rumah urban sederhana dan pemafaatan bambu untuk material rumah urban, semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk hal lainnya secara umum.

Baca juga:Menyiasati Tapak Rumah Urban pada Lahan Terbatas

Pencarian umum

Saat memulai “pencarian” kecil ini, hal pertama yang mungkin akan sangat membantu adalah dengan menemukan pertanyaan-pertanyaan umum yang sering muncul. Seperti orang lain pada umumnya, laman pertama yang saya tuju adalah laman pencarian google. Beberapa saat berselancar, saya mulai mendarat di halaman Google Trends, sebuah tools yang mungkin dapat membantu saya memahami apa yang dibutuhkan oleh “pasar”.

Beberapa menit menjelajahi fungsi-fungsi Google Trends, sedikit banyak memberikan infromasi/gambaran mengenai apa yang menjadi demand (permintaan) masyarakat pada umumnya (khususnya masyarakat yang memiliki akses terhadap internet). Tren yang muncul cukup menarik, saat saya memasukkan kata kunci rumah dengan mengaktifkan filter wilayah sehingga Google Trends hanya menampilkan data yang ada di wilayah Indonesia saja.

dan lok: educating new marketing
Tren kata ‘rumah’ dalam pencarian di google (Sumber: Google Trends)
dan lok: educating new marketing
Pencarian kata ‘rumah’ yang berasal dari wilayah DKI Jakarta (Sumber: Google Trends)

Pencarian kata ‘rumah’ ternyata paling banyak berasal dari wilayah Banten. Sementara pencarian kata rumah yang berasal dari wilayah DKI Jakarta, yang saya pikir memiliki volume pencarian yang besar, ternyata hanya berada di urutan ke-18. Cukup menarik, meskipun tidak otomatis pencarian yang berasal dari wilayah DKI Jakarta, misalnya, memang benar-benar berasal dari Jakarta (hal ini terkait pengalamatan IP address dan hal lebih teknis lainnya). Selain itu, pencarian terkait menunjukkan lebih banyak pencarian untuk kata ‘rumah sakit’ dibandingkan ‘rumah minimalis’. Apakah ini tanda bahwa aspek kesehatan adalah aspek yang sangat penting bagi orang Indonesia? Hmmm.. mungkin saja.

Lebih jauh, saya mencoba memasukkan kata “rumah urban” sebagai variabel pencarian, hal ini mengingat sebenarnya manfaat yang ingin diberikan oleh laman rumahdaribambu.com kepada pembacanya ada di seputar topik tersebut. Hasil yang ada, menunjukkan kebutuhan akan informasi mengenai rumah urban ternyata cukup fluktuatif, dan cenderung menurun. Bahkan, apabila dibandingkan dengan kata “rumah minimalis” dan “kamar” sebagai variabel pencarian, kata “rumah urban” seakan-akan tiarap di bawah. Hmmm… gambaran yang cukup menarik, mengingat ternyata rata-rata orang (yang mengakses google) lebih concern dengan kamar dibandingkan dengan rumah secara keseluruhan. Sementara itu, frase “rumah minimalis” mendapatkan perhatian jauh lebih tinggi, yang barangkali merupakan salah satu efek dari booming-nya fenomena pembangunan perumahan-perumahan (gated-community) oleh pengembang. Barangkali.

dan lok: educating new marketing
Tren pencarian dengan kata ‘rumah urban’ di Indonesia (Sumber: Google Trends)
dan lok: educating new marketing
Perbandingan hasil pencarian dengan frase ‘rumah minimalis’,’rumah urban’, dan ‘kamar’ (Sumber: Google Trends)

Baca juga:Ruang yang Harus Ada pada Rumah Urban

 

Menelisik People Also Ask

Ketika melihat hasil perbandingan data di atas, tentunya memunculkan pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Saya mencoba menelisik fitur People Also Ask yang muncul pada form pencarian Google seketika kita menuliskan kata pencarian di sana. Beberapa pertanyaan yang muncul mengikuti kata kunci yang saya masukkan cukup memberikan gambaran sejauh apa topik terkait rumah dan rumah urban ini dibutuhkan oleh orang banyak.

dan lok: educating new marketing
Pertanyaan terkait strategi membeli rumah (Sumber: Google)
Pertanyaan terkait pencarian dengan kata ‘cara desain rumah’ (Sumber: Google)
dan lok: educating new marketing
Pertanyaan tentang strategi membangun rumah (Sumber: Google)

Melihat beberapa pertanyaan yang muncul saat saya mencari dengan frase tertentu, memberikan gambaran yang semakin luas tentang permasalahan yang mungkin dihadapi orang lain maupun diri saya sendiri terkait pemenuhan kebutuhan hunian. Persoalan seperti “strategi membangun rumah secara bertahap”, “cara membeli rumah tanpa kpr”, dan berbagai persoalan lain nampaknya masih perlu dicarikan jalan keluarnya.

Sampai di sini, agaknya, ungkapan Dan Lok ada benarnya. Dalam konteks rumah tinggal, masih banyak permasalahan terkait hunian yang dihadapi orang-orang baik di kota besar atau di daerah lain, yang memerlukan jawaban dan solusi yang realistis untuk dilakukan. Meskipun bukan berupa jawaban dan solusi yang tuntas, saya percaya setidaknya saat kita berusaha memberikan alternatif jawaban dan solusi atas persoalan-persoalan seperti ini, kita telah memberikan sumbangan kebaikan bagi orang lain.

Dengan demikian, sudah jelaslah, bahwa rumahdaribambu.com masih harus banyak belajar, untuk dapat memberikan manfaat yang lebih besar khususnya bagi para pembacanya. Semoga!

Terimakasih telah membaca! 🙂

ruang yang harus ada pada rumah urban

Ruang yang Harus Ada pada Rumah Urban Sederhana

Saat anda mulai membangun rumah anda, pertanyaan mengenai “ruang apa saja yang anda perlukan” seringkali muncul di awal. Beberapa orang dapat menentukan kebutuhannya dengan mudah. Namun demikian beberapa orang kadang kesulitan untuk memperkirakan kebutuhan ruang untuk rumahnya. Hal ini lebih krusial ketika anda akan membangun/menempati sebuah rumah di kota besar yang padat. Lalu, apa yang anda pikirkan saat ingin membangun rumah di kota besar? Beberapa pertanyaan berikut ini dapat membantu anda menentukan ruang yang harus ada pada rumah urban.

1. Berapa jumlah anggota keluarga anda?

Saat pertama kali merancang ruang yang anda butuhkan untuk rumah anda, pertimbangan yang pertama muncul biasanya terkait dengan jumlah anggota keluarga anda. Kebutuhan ruang untuk keluarga dengan tiga, empat, lima orang anggota keluarga sangat mungkin akan berbeda.

ruang yang harus ada pada rumah urban
penghuni rumah

Apabila keluarga merupakan keluarga baru yang hanya terdiri dari suami dan istri, mungkin kebutuhan ruangnya akan sangat minimal. Satu ruang tidur utama dengan toilet dan kamar mandi, serta pantry (dapur) kecil dan ruang keluarga bisa jadi sudah cukup. Keluarga yang terdiri dari tiga atau lebih anggota keluarga mungkin akan membutuhkan kamar tambahan.

2. Berapa usia masing-masing anggota keluarga?

Usia masing-masing anggota keluarga dapat dijadikan salah satu pertimbangan saat akan menentukan kebutuhan ruang di hunian anda. Anggota keluarga yang masih bayi misalnya, tidak memerlukan ruang kamar tersendiri. Bayi atau anak yang masih kecil biasanya akan tidur di kamar yang sama dengan kamar orangtua. Hal ini tentunya akan memudahkan orang tua menjaga bayi atau anaknya yang masih kecil bila sewaktu-waktu mereka membutuhkan sesuatu di malam hari.

Sedangkan anggota keluarga yang sudah dewasa idealnya membutuhkan ruang tidur tersendiri. Meskipun demikian, ruang tidur tersendiri ini sebenarnya tidak harus selalu berwujud sebagaimana yang ada di dalam pikiran orang secara umum: yaitu ruangan selebar 3×3 meter yang dibatasi dinding. Hal terkait dimensi ini akan dibahas lebih jauh di poin ke-8.

3. Berapa lama waktu yang anda habiskan di rumah?

Berapa lama waktu yang anda habiskan di rumah? Pertanyaan ini hampir mirip dengan pertanyaan: apa aktivitas anda sehari-hari, dan bagaimana polanya? Dengan mengetahui pola aktivitas anda sehari-hari, anda dapat memahami proporsi penggunaan ruang anda selama satu hari penuh, setiap harinya.

Sebagai gambaran, keluarga baru yang terdiri dari suami dan istri yang keduanya bekerja di luar rumah, kemungkinan hanya akan menghabiskan waktu selama 9 jam setiap harinya di rumah (di hari kerja), dan sedikit lebih panjang di akhir pekan (apabila tidak berliburan ke luar rumah). Sementara keluarga yang terdiri dari tiga atau empat anggota keluarga, yang orangtua bekerja sebagai wirausaha (misalnya: berjualan di toko online), maka sehari-hari mungkin akan lebih sering di rumah. Dengan demikian, keluarga kedua bisa jadi membutuhkan ruang yang lebih banyak dan nyaman.

4. Apakah ada orang lain yang akan tinggal di rumah anda?

Pertanyaan berikutnya yang dapat anda gunakan untuk memperkirakan kebutuhan ruang dalam rumah anda adalah apakah terdapat orang lain yang akan tinggal di rumah anda (dalam rentang waktu panjang/pendek)? Orang lain itu dapat saja orangtua anda, keluarga/saudara anda, atau asisten rumah tangga (ART)/pengasuh anak, dan sebagainya.

Apabila jawaban pertanyaan tersebut adalah “ya”, berarti anda perlu memikirkan kebutuhan ruangnya. Tentunya hal ini harus disesuaikan juga dengan jawaban atas pertanyaan ketiga di atas. Sehingga, misalnya untuk ART yang hanya bekerja pada siang hari, mungkin tidak membutuhkan ruang tidur tersendiri. Namun, apabila yang tinggal adalah orang tua atau kerabat anda, tentu idealnya mereka perlu ruang tersendiri.

5. Apakah anda lebih suka ruang yang bersekat atau ruang yang “mengalir”?

Pilihan akan ruang bersekat atau ruang yang mengalir (open plan) tentu akan terkait erat dengan preferensi penghuni terhadap pilihan tingkat privasi v.s kemudahan sirkulasi dan kesan luas. Bagi anda yang tidak merasa risih apabila aktivitas anda di dapur/pantry terlihat oleh tamu misalnya, bisa saja pilihan open plan yang dipilih (catatan: meskipun anda memilih ruang yang lebih terbuka/mengalir, tidak berarti anda tidak bisa menyiasati aspek privasi. Anda masih bisa mendapatkan privasi dengan misalnya penempatan partisi dari bahan-bahan yang tidak rigid, misal dari kain, manik-manik, dan sebagainya).

Apabila privasi adalah hal yang benar-benar penting bagi anda, ruang bersekat bisa menjadi pilihan. Akan tetapi, anda perlu ingat bahwa dengan menyekat ruang secara penuh/rigid, kesan luas ruang akan berkurang signifikan. Tentunya hal ini juga perlu diperhitungkan khususnya untuk rumah urban yang memiliki luasan yang terbatas.

6. Berapakah luas tanah anda (khusus untuk rumah tapak)?

Khusus untuk rumah urban yang berupa rumah tapak, luas tanah yang terbatas perlu disikapi dengan bijak. Kebutuhan ruang untuk rumah urban yang berupa rumah tapak perlu diperhitungkan dengan baik. Hal ini agar ruang yang dihasilkan optimal, mengingat rumah tapak akan terpengaruh dengan beberapa poin peraturan seperti luasan maksimal bangunan terhadap lahan (KDB), luasan ruang terbuka hijau minimal (KDH), dan ketinggian bangunan (KLB).

Pada umumnya, KDB bangunan rumah tinggal adalah sebesar 60% dari luas lahan. Sehingga, jika luas lahan yang anda miliki adalah 100 m², luasan lantai dasar bangunan rumah anda tidak boleh melebihi 60 m². Selain itu, penempatan tapak bangunan (building footprint) juga akan mempengaruhi susunan ruang dalam. Apabila lahan sudah terkepung dengan bangunan di sekitarnya, adanya Garis Sempadan Bangunan (GSB) dapat mempengaruhi penempatan bukaan dinding. Ini artinya, ruang-ruang dalam yang memerlukan sirkulasi udara yang baik harus ditempatkan pada sisi yang berbatasan langsung dengan udara luar (untuk menghindari munculnya konfigurasi “ruang dalam ruang”).

7. Apakah yang dikatakan peraturan terkait di daerah anda tentang ruang minimal yang harus ada?

Sebelum memutuskan ruang apa saja yang diperlukan dan akan dibangun, ada baiknya anda melihat peraturan terkait yang ada di daerah anda. Sebagai contoh, peraturan daerah bangunan gedung di DKI Jakarta mempersyaratkan ruang minimal yang harus ada untuk bangunan yang berfungsi sebagai hunian tempat tinggal, yaitu ruang penggunaan pribadi, ruang bersama, dan ruang pelayanan. Sementara itu, ruang penunjang pemenuhan kebutuhan penghuni rumah dapat ditambahkan bila dipandang perlu (opsional). Bagaimanakah dengan peraturan terkait di daerah anda?

8. Ruang terdiri dari empat dimensi, karenanya optimalkan pemanfaatan empat “dimensi ruang” ini.

Kita terbiasa melihat ruang sebagai sesuatu yang berwujud secara fisik. Ketika ditanya mengenai ruang tidur, misalnya: “seperti apa ruang tidur anda?”, kita biasanya secara spontan akan menjawab: “ruang tidur saya cukup luas, berukuran 3×3 meter dengan satu kamar mandi dalam”. Pemahaman ini bukanlah pemahaman yang keliru. Namun demikian, untuk dapat mengoptimalkan ruang, kita perlu melihat ruang sebagai integral dari empat dimensi: panjang, lebar, tinggi, dan waktu.

Setiap ruang dalam rumah memiliki elemen panjang, lebar, dan tinggi (elemen 3 dimensi) yang umum kita ketahui. Dimensi ini mendefinisikan seberapa besar ruangan yang ada. Ruang sendiri pada esensinya hanyalah suatu “wadah”, sehingga hal mendasar yang perlu ada dalam mindset kita saat kita ingin menentukan kebutuhan ruang, adalah bahwa ruang adalah “wadah bagi aktivitas”.

ruang yang harus ada pada rumah urban
empat dimensi ruang: panjang, lebar, tinggi, dan waktu

Sebagai wadah yang memiliki panjang, lebar, dan tinggi, ruang dapat dioptimalkan dengan mengeksploitasi panjangnya, lebarnya, atau tingginya. Dalam praktik sehari-hari, kita biasanya cenderung terjebak pada optimalisasi panjang dan lebar, dan melupakan optimalisasi tinggi ruang. Di sinilah salah satu rahasia penting merancang ruang yang efisien.

Optimalisasi tinggi ruang, bersama dengan panjang dan lebar ruang, meningkatkan pemahaman kita akan ruang sebagai makhluk tiga dimensional yang memiliki volume. Namun, jangan lupakan, ruang juga memiliki elemen ke empat, yaitu waktu.

Sebagai wadah dari suatu aktivitas, ruang memiliki elemen waktu di dalamnya. Pernahkah anda berfikir, ketika anda pulang dari kantor anda yang cukup luas itu, apa yang terjadi dengan ruangan kantor anda? Kosong, bukan? Hal yang sama terjadi dengan ruangan di rumah minimalis anda. Ketika semua penghuni rumah pergi beraktivitas pada siang hari, ruangan di rumah anda akan kosong. Dengan memahami pola aktivitas semua penghuni rumah dalam rentang waktu hariannya, maka anda akan bisa memaksimalkan penggunaan ruangan di rumah anda, bahkan jika rumah anda adalah rumah yang mungil saja.

Semoga bermanfaat ya.. Bro. Ingin membaca artikel lainnya? Monggo Bro meluncur ke sini. Bila anda rasa artikel ini bermanfaat, jangan ragu ya untuk klik tombol share! 🙂

cerita tentang bambu sebagai material bangunan

Tentang Bambu

“Bro, cerita tentang bambu dong Bro..!”

Ketemu lagi dengan rumahdaribambu.com di akhir pekan yang cerah ini! Ya, dalam seri pertama dari tulisan saya di laman ini, saya akan menulis sedikit tentang Bambu. Sebagai orang ndeso, sudah sejak kecil saya mengenal bambu. Bukan mengenal bambu sebagai material bangunan, melainkan bambu sebagai dirinya yang lain.. halah.. >,< (baca: slumpring, lugut, egrang, dan rebung). Namun demikian, dalam artikel ini kita akan coba mengenal bambu lebih dalam sebagai salah satu alternatif material/bahan yang dapat kita pakai untuk mempercantik bangunan.

Bicara tentang bambu, menurut Gernot Minke dalam bukunya yang berjudul “Building with Bamboo, Design and Technology of a Sustainable Architecture (second and revised edition), paling tidak terdapat enam kelompok jenis bambu yang biasa dimanfaatkan sebagai salah satu material dalam bangunan. Enam kelompok Bambu tersebut adalah:

  1. Bambusa
  2. Chusquea
  3. Dendrocalamus
  4. Gigantochloa
  5. Guadua, dan
  6. Phyllostachys

Bambusa

cerita tentang bambu sebagai material bangunan
bambusa vulgaris

Kelompok/genus bambu ini menurut Minke masih dapat dibedakan lagi menjadi beberapa jenis yang lebih spesifik:

  • Bambusa balcoa
  • Bambusa disimulator
  • Bambusa edilis
  • Bambusa polymorpha
  • Bambusa stenostachya
  • Bumbusa vulgaris
  • Bambusa bambos (L.) Voss
  • Bambusa nepalensis
  • Bambusa oldhami Munro (Green Bamboo)
  • Bambusa vulgaris, Schrader ex Wendland
  • Bambusa vulgaris, Schrader ex Wendland, var. striata

Ciri khas dan keunggulan bambu-bambu yang tergabung dalam kelompok Bambusa ini antara lain: tinggi pohon bambunya bervariasi mulai dari 6 meter hingga yang paling tinggi sekitar 30 meter dengan diameter antara 6 sampai dengan 18 centimeter; habitat hidupnya sebagian besar di Asia (China, India, Asia Tenggara, Asia Timur) kecuali Bumbusa vulgaris yang juga ditemukan di Amerika; beberapa jenis berwarna hijau dan juga terdapat kombinasi dengan warna emas/kuning.

Chusquea

Bambu jenis ini juga dapat dibagi lagi menjadi beberapa jenis bambu Chusquea yang lebih khusus, yaitu antara lain:

  • Chusquea culeou
  • Chusquea culeou Desvaux (“coligüe”,”colihue”, atau disebut juga “culeu” di negara Chile)
  • Chusquea quila Kunth

Beberapa ciri khusus yang dapat ditemui pada bambu dalam keluarga Chusquea ini antara lain adalah: tinggi pohon antara 4 (empat) sampai dengan 6 (enam) meter dengan diameter batang bambu yang cukup kecil yaitu sekitar 4 (empat) centimeter; tanaman bambu jenis ini banyak tumbuh di bagian selatan bumi dan ditemukan di Amerika Selatan dan sebagian Amerika Tengah; batangnya termasuk kuat meskipun bambu ini cenderung berukuran kecil. Dengan ukuran diameter yang kecil batang bambu jenis ini cocok dijadikan elemen pembentuk partisi di interior bangunan, maupun secondary skin (dinding pelapis) di eksterior.

Dendrocalamus

Keluarga bambu ini terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

  • Dendrocalamus balcoa (Bambusa balcoa)
  • Dendrocalamus giganteus (Giant bamboo)
  • Dendrocalamus asper
  • Dendrocalamus latiflorus

Nah, masih menurut Gernot Minke, bambu yang terdapat dalam keluarga ini memiliki ciri antara lain: batang bambu besar dan kokoh dengan tinggi dapat mencapai lebih dari 30 meter dan diameter lebih dari 30 centimeter dengan ketebalan batang dapat mencapai 2.5 centimeter; jarak antar ruas mencapai 70 centimeter; banyak ditemukan di Asia Tengah dan Asia Tenggara. Dengan karakteristik ini bambu jenis ini sangat cocok dijadikan sebagai bahan bangunan, khususnya untuk elemen struktural. Bambu jenis ini biasanya kita kenal sebagai bambu petung atau pring petuk.

Gigantochloa

Keluarga bambu Gigantochola ini dibedakan lagi menjadi beberapa spesies, yaitu:

  • Gigantochloa apus (Bambu apus)
  • Gigantochloa atroviolacea (Bambu hitam)
  • Gigantochloa levis

Bambu dalam kelompok ini memiliki ciri khusus antara lain: tinggi batang bambu mencapai sekitar 15 meter dengan diameter mencapai 10-15 centimeter; dan habitat tumbuhnya sebagian besar berada di daerah Asia Tenggara. Di desa-desa di Indonesia, bambu jenis ini biasanya dipakai sebagai bahan dasar pembuatan perabot rumah dari bambu.

Guadua

Keluarga bambu Guadua merupakan tanaman bambu yang lazimnya hanya tumbuh di benua Amerika bagian selatan, khususnya di Kolombia dan Ekuador. Nama Guadua sendiri diberikan oleh Karl Sigismund Kunth sesuai dengan sebutan penduduk lokal untuk bambu ini [1]. Bambu dalam kelompok ini dapat dibagi lagi menjadi beberapa jenis bambu yang lebih khusus yaitu:

  • Guadua angustifolia Kunth
  • Guadua aculeata
  • Guadua chacoensis
  • Guadua paniculata Munro
  • Guadua superba Huber

Beberapa ciri khas yang dapat ditemui pada jenis bambu dalam keluarga Guadua ini yaitu: ketinggian batang bambu dapat mencapai 15 hingga 30 meter dengan diameter rata-rata 9-12 centimeter namun dapat juga mencapai 21 centimeter; apabila dilihat dari karakteristik ruas-nya bambu jenis ini memiliki beberapa klaster yaitu “onion” yang memiliki jarak antarruas yang agak panjang dengan karakter cocok untuk menangani gaya tarik, varian “club” dengan jarak antarruas yang pendek yang cocok untuk menangani gaya tekan, “castle” yang tidak terlalu kuat untuk tekan/tarik tapi cocok untuk membuat papan/kerai/teralis, dan “goitred” yang memiliki jarak antarruas tak beraturan (mungkin cocok untuk elemen dekoratif) [2]. Sementara, habitat tumbuh dari bambu ini endemik di Amerika Selatan, seperti di Argentina, Bolivia, Kolombia, dan Ekuador.

Phyllostachis

cerita tentang bambu sebagai material bangunan
phyllostachis bambusoides

Nah, kelompok bambu yang terakhir ini ditemukan tumbuh lebih banyak di daerah sub-tropis seperti China, Jepang, Amerika dan bahkan Eropa. Jenis bambu yang termasuk dalam keluarga Phyllostachis antara lain:

  • Phyllostachis aurea
  • Phyllostachis bambusoides
  • Phyllostachis nigra, var. henonis
  • Phyllostachis pubescens
  • Phyllostachis vivax

Karakteristik yang dimiliki bambu dalam kelompok ini adalah: tinggi batang bambu antara 5 – 21 meter dengan diameter batang dapat mencapai 17 centimeter; asal dari China dan Jepang akan tetapi banyak juga ditanam di Amerika dan sebagian Eropa.

Nah, itulah Bro beberapa kelompok dan jenis bambu yang dapat kita manfaatkan baik untuk struktur bangunan kita maupun untuk elemen pendukung (interior maupun eksterior) dan juga elemen dekoratif. Tertarik untuk mencoba menggunakan bambu di rumah kamu? Cek apakah jenis bambu yang banyak ditemukan di tempat anda adalah bambu yang tepat. Tunggu posting kami selanjutnya di laman rumahdaribambu.com! 🙂

“Makasiiih yaa, Bro…! (T▽T) (y)”

Sampai jumpa pekan depan!

 

 

Referensi:

[1] Minke, G. (2012). Building with bamboo. Basel: Birkhäuser.
[2] Sumber foto bambu dari Wikipedia.

 

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!